Telapak & Anjing 2
oleh : Nugroho Wahyu Utomo
Deretan aksara menyanyikan rayuan tiada suara
menyulut cinta pengeja
berbusana gengsi arogansi.
Si empat menjual diri
senyumnya manis mengalahkan wanita
melukis harap ribuan mata
menyihir hati insan mendekap dirinya.
Tiada dua telinga menyapa deretan nyanyian imbau,
tiada lukisan kesadaran di media hati.
Telapak-telapak itu tetap melayang dalam canda dan tawa.
Melenggang kencang di media bubur kelabu yang memanjang menerjang kandang.
Telapak - telapak itu merias kemarahan dalam dekap merapat nan pepat pekat.
Jerit elektrik pun tiada henti
meraung-raung melepas polusi dekadensi
antara insan bertahta dan hina.
Anjing-anjing terkatup membisu
menatap telapak melayang kencang.
Meletupkan gonggong hujat
bagi telapak yang merayap
tertatih menggapai hidup di buana kepalsuan.
Semarang, 12 Desember 2009
Kamis, 27 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar