Kamis, 27 Mei 2010

Armegedon - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

ARMAGEDON
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

ARMAGEDON Pt 1 : STOP SAMPAI DI SINI?

Resah menyelimuti jiwaku,
gelisah mengekang hatiku,
ketika perkusi telingaku bergaung tertabuh warta akhir fana.
Di sana puluhan insan pekerja doa
menarikan dan menyanyikan kebahagiaan,
menyambut akhir jiwa berpijak di dunia.
Membawa lukisan yakin di jiwa,
lambang suci di hati ungkap harap duduk di singgasana surga.
Tiada karya semestinya kala di negeri fana,
hanya tangis dan doa tersiar mereka berharap harta
tiba dari sang pencipta,
mendobrak ikhtiar menggapainya.
Bila akhir jiwa telah menyapa,
bila akhir fana saatnya menjelma,
ku nyanyikan seuntai pasrah kepadaNya.
Akankah meniti hidup berakhir sampai di sini?

Semarang, 8 Oktober 2009

ARMAGEDON Part 2: BILA SEMUA BERAKHIR

Bila semua berakhir.
Tiada caci caci anak manusia.
Tiada gemerlap elektrik di penjuru buana.
Tiada tikus beralas karet berlarian di atas padatnya bubur kelabu.
Semua terbentang bisu dalam senyap.
Hatiku berdegup kencang saat warta prahara kan menghujam dunia.
Mengapa mereka mencium alam raya saat kudekap bahagia?
Sesal jiwaku tiada jalan pijakkan Madina,
manakala ikhtiar dalam karya
melukis mimpi merayap ke tanah yang suci,
sekejap cipta tak terduga lenyap tiada tersisa karena prahara.
Serasa hutang pada Illahi yang tak terpenuhi,
mendepakku atas kemarahanNya ke kawah neraka.

Semarang, 13 Oktober 2009

ARMAGEDON Part 3: PRAHARA MENJELMA

Gemuruh bersinergi terkoyaknya dunia telah tiba.
Ratusan juta mata seluruh benua
terpana dalam selimut tanya,
apakah fana kan berganti baqa?
Sekejap ribuan bongkah raksasa mencium alam raya,
menebar bara api melibas segala isinya,
menciptakan maha taufan mendepak terjang penghuninya.

Semarang, 15 Oktober 2009

ARMAGEDON Part 4: TERBUNUH SUNYI

Sunyi mengiringi ke benua baqa,
terkapar dalam tidur keabadian.
Semerbak lebam jasad melayang
memancar dari raga yang kaku membisu.
Tiada insan tersembunyi di balik ruang keselamatan.
Wajah fana berubah beku.
Tiada nyanyian burung saat menyapa mentari.
Tiada teriakan lapar Gagak mengais yang terbujur mati.
Semua musnah terbunuh dalam sunyi.

Semarang, 27 Oktober 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar