Telapak & Anjing 1
Siang kering kerontang,
mentari memuntahkan panas,
desir angin menebar debu,
melukis dekil,
memanggang hitam,
menebar semerbak asam.
Kota glamour itu telah tertimbun,
oleh pekat di atas tanah yang padat.
Semua melayang tak berpijak di bumi,
mendekat rapat tak bergerak,
menjerit elektrik,
memekak buasnya panas,
siang itu.
Sudah berapa doble lubang disusupi?
Sudah berapa kantong dicemari?
Lihatlah mereka yang menyetrika dengan telapak!
Ketika telapak merayap di atas tanah,
mengundang anjing menyalak dengan mata sinis.
Kini telapak itu melayang,
dan anjing itu mendekam dalam bisu.
Wajahnya terseyum haru,
berbuah bangga,
untuk yang terbungkam gengsi.
Wahai insan modern,
dekaplah si empat,
agar kau tak dihujat.
Bubur kelabu telah menerjang kandang.
Kakek besi pun terbenam mati paksa.
Bila padat merapat,
siramlah bubur kelabu,
untuk si empat,
yang manja dan menyebalkan.
Semarang, 11 Agustus 2009
Rabu, 26 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar