Rabu, 26 Mei 2010

Puisi & pengkhianatan - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Pengkhianatan
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Kenikmatan persahabatan lebih mahal dari gedung Rockefeler.
Manisnya aneka wajah hingga merasuk ke dalam relung hatinya,
lebih langka daripada barang antik.
Membingkai khianat lebih mudah dari sekedar membalikkan telapak.
Merumuskan kesepakatan lebih rumit dari deferensial integral.
Mulut manis menyengat dalam senandung persahabatan,
menimba sumur yang berlebih,
merekam jejak citra hitam,
siar gerilya menyepak dalam gawang fitnah.
Mulut manis berbisa terus menyanyikan kebohongan kepada ratusan kerbau,
meniup terompet petaka di jiwa infanteri.
Ternoda nama terjerembab jurang cercaan.
Nista menetap di singgasana hati.
Semua pergi tinggalkan jejak caci.
Merapat ke pelabuhan gemerlap pesona,
bertandang ke pintu kerongkongan si manis,
bersiap dicerna dalam perut kemunafikan.

Semarang, 22 Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar