Kamis, 27 Mei 2010

Sendiri di Tanah Terjanji - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Sendiri di Tanah Terjanji
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Tubuhmu membisu dan kusam saat berpijak di bukit berawa.
Menyendiri teranak tiri kala penggerak elektrik menyingkirkanmu.
Panas memanggang, tetes hujan basah menyisakan karat di tubuhmu.
Nyaris ragamu menjadi santapan tikus-tikus rakus ambisius.
Di kaki pusara dasamuka kau dirawat dan dirias,
menjadi pujaan ketika hidup dan meniti di atas besi berbilah.
Seabad lebih kau hela rakyayku di atas empat gandar besi berdinding kayu,
melintas cepat membelah hamparan hijau dikelilingi deretan bukit.
Tak kusangka secepat itu kau pergi tinggalkan garasi tua
tempat kau terawat dan terlahir kembali.
Aku sangsi di tanah terjanji kau bisa abadi.
Jangan biarkan jasadmu terberai setan pendulang uang.
Bila nanti kau tak berlari untuk selamanya,
rebahkan jasadmu di atas batu membentang,
agar pemujamu menatap dan mengenangmu.

(dedicated to steam locomotive C1218 in Daop VI Solo & E1060 in Divre II West Sumatra)

Semarang, 27 September 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar