Puisi & Keadilan
oleh : Nugroho Wahyu Utomo
Aku bukan pengeja pustaka,
yang tak mampu berkata-kata penuh makna,
hingga mempesona jutaan wanita.
Aku adalah pendobrak tirani paksa,
yang menolak dalam tuntutan benua kelaziman,
karena muak menatap palsu skenario dunia.
Wajar bila dia jauh dari ku.
Biarkan dia pergi,
namun bayangan itu terus menghantui,
dan tetap bertahan di singgasana hati.
Tiada guna bertahan,
saat dahan silaturahmi patah diterpa badai ketidak adilan.
Menatap dia serasa menggampar mukaku,
hingga terjerembab dalam kubangan nista,
menetaskan kebencian memendam dendam.
Aku tak tahu bilamana semua kan berakhir.
Semarang, 8 Oktober 2008
Rabu, 26 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar