Minggu, 30 Mei 2010

Fitnah - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Fitnah
Oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Memendam dendam menyulam hantam,
menikam dalam cecar siar dan tampar
tiada terlontar untaian kata bijana
menghalau nyanyian silau sang pendusta.

Jiwa teriris sedih pedih bersua fitnah,
menari mencari khilaf insani sesuka hati
mendepak sepak ke jurang menghilang
kukuhkan diri pengganti yang pergi mati.

Tiada kata henti untuk berkarya
Tuhan beserta anak manusia terluka,
mengais hidup di hamparan puing asa
mengukir karir yang terbenam duka.

Semarang, 13 April 2010

Matematikamatikamatekamakatimatika - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Matematikamatikamatekamakatimatika
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

1 + 1 - 1 x 1 : 1
13579111315171921
2468101214161820
t j t j t j t j

Sin x cos x tag x
Log y cotag y
sin x ( y x z)/ cos x
tag y ( x + z)/ sin y

Semarang, 6 April 2010

Misteri Insani - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Misteri Insani
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Bersua seribu wajah cerah ramah
menabur bahagia berbunga ceria,
jabat erat tersirat sejawat
memendam wajah dari segudang benci tersembunyi.

Tiada tetes kesadaran merasuk sanubari
bila seraut paras berrias senyum
terbingkai ruas lepas atas misteri
menggenggam iri beriring dengki.

Tiada alir hilir di ranu hati
bila nyanyian pujian memabukkan
terselip nada minor kotor
menghela caci tiada bertepi.

Hunuskan belati pengundang mati
kala tiada cinta tersemat di jiwa.
Bawa ke ujung dataran tertinggi
untuk meneguk racun yang meledak muak.

Semarang, 11 Desember 2009

The Story of Babon - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

The Story Of Babon
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Lahir berpijak menginjak hak para abdi
menggenggam pesona paras berrias baur
berkokok tiada bertepi sisihkan penghalang
menabur pikir berbunga problema berselimut getir.

Semarang, 16 Maret 2010

Mendoan & 10 Cabe Rawit - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Mendoan & 10 Cabe Rawit
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Panas berrias serbuk nan mengeras
mengemas raga kedelai menabur pesona kenikmatan.
Genggam satu helai kelezatan
beriring pedas ganas si kecil hijau.

Mengecap sedap separuh tiada rasa gigit rawit,
kecewa menghunjam hati menari mencari kerdil yg garang.
Sekeping mungil dalam himpitan jemari
bersua dalam lumat cabe beriak galak.

Semarang, 17 Maret 2010

Teriak - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Teriak
oleh : Nugroho Wahyu Utomo
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!!!!!

(terinspirasi "Careful Axe Eugene" nya Pink Floyd dan "Revolution No.9" nya The Beatles)

Semarang, 12 Maret 2010

Senandung Metropolitan - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

SENANDUNG METROPOLITAN
oleh : Nugroho Wahyu Utomo
SENANDUNG METROPOLITAN part 1 :SELAMAT DATANG METROPOLITAN

Perjalanan jauhku berselimut keraguan
merajut keinginan menerabas kepalsuan
mengitari relung-relung gemerlap memabukkan
tertindas dalam hamparan hitam legam.

Masih adakah celah kemurnian hati
tersembunyi sunyi mendekam nyaris mati
mengais hidup terbingkai kepahitan
terpendam di bawah gempita keangkuhan?

Tertatih meregang panas ganas
dibawah hamparan kelabu yang melintang
diantara bisikan semilir hilir si empat
terantuk batuk tertikam udara busuk.

Terlukis kecil kerdil di balik seribu wajah jumawa
tertampar memar deretan aksara cela
merintih perih berkabut dendam kelam
terlempar kapar bermandikan ludah cemooh.

Jakarta, 5 Maret 2010

SENANDUNG METROPOLITAN part 2 : METROPOLITAN

Duduk membisu bertabur udara beku
denting jemari menabur berbunga karya
beriring detak waktu berlalu
berselimut hangat capuccino mocca.

Sekejap derap langkah menyibak jendela
terinjak muak bersua si empat berlari
terpana dalam tanya cuaca berlinang muram
tiada tetes menghunjam basah buana.

Tiada hasrat menarikan telapak
merayap tiada arti terhalang tikus merapat
lari menyepi berhias bayangan penggenggam keangkuhan
sembunyi menepis mimpi rapuhkan hati.

Jakarta, 6 Maret 2010

SENANDUNG METROPOLITAN part 3 : METROPOLITAN WEEKEND

Berpendar kitar gelap berias gemerlap
hutan batu benderang sepanjang malam
si empat melayang terang kencang melintas pekan
hura hurara bersinergi caci caci situasi.

Berat hati pijakkan telapak keriuhan
berpaling sanubari bersua berbusana arogansi
tiada keinginan menyapa pengoyak jiwa
memendam dingin memahat deretan karya.

Jakarta, 6 Maret 2010

SENANDUNG METROPOLITAN part 4 : GEMPITA METROPOLITAN

Kemilau surya menyapa buana glamour
menyapa sua celah jendela
si empat menderu melenggang di hamaparan kelabu
padat merapat menjerit elektrik mencekik relung dengar.

Fajar bertabur hangat menepis cuaca menangis
telapak beranjak merayap seribu langkah
bermandi mentari merias ceria sanubari
menggenggam gempita bias kegembiraan.

Jakarta, 7 Maret 2010

SENANDUNG METROPOLITAN part 5 : GOOD BYE METROPOLITAN

Mega-mega melukis kesedihan
semburatkan hujan menghunjam bumi
membasahi nadi kancah hidup metropolitan
tiada tahu rangkaian situasi terjadi.

Biarkan ku menerabas kesedihan awan
melayang tinggalkan gempita kota
berkalung kerinduan di tanah terjanji
merajut harap lingdunganMu untuk kembali.

Jakarta, 8 Maret 2010

Puisi Angkuh - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi Angkuh
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Tinggalkan lubang berkalung jiwa
meniti mengisi relung hidup bergelora
mengais memeras pikir berlinang harta
menggamit melilit kepalsuan mendaki puncak strata.

Menepis keindahan hidup berselimut nelangsa
menyapu kemurnian hati sang bijana
melukis jumawa merangkai kubur jiwa hina
nyanyikan angkuh melabuh jauh hamparan benua.

Semarang, 2 Maret 2010

Senandung Lara - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Senandung Lara
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Rebah singgah di peraduan
meronta beriring jerit rintih
tiada berdaya merajut karya
terikat lara yang menyiksa.

Menelan butir dan serbuk kepahitan
Menanti tetes peluh melarung derita
mendekap raga dalam kain kehangatan
melukis harap terang menyapu duka.

Semarang, 20 Februari 2010

Pecah - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Pecah
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Ragamu memikat menebar kilat
tersiram cahaya silaukan indra penglihat.
Ratusan gumpalan putih singgahi tubuhmu
tinggalkan dekil sekujurmu.

Semburat tirta membasuhmu
menyapu jejak kerak di hamparan padatmu
melarung buih mengukir semerbak wangi
berselimut kilau membenamkanmu di peraduan.

Tersentak dari mimpi indahmu
terjatuh terantuk datar membatu.
Terbelah pecah beranak butiran tajam
menusuk meracun nyawa penindasnya.

Semarang, 18 Februari 2010

Episode Imlek - oleh : Nugroho Wah yu Utomo

EPISODE IMLEK
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Untaian batang membara
menebar semerbak sambut gempita.
Nyanyian puja kumandang kusyuk
mengukir harap kepada sang Khalik.

Tetes demi tetes mencium buana
tersulap dalam deras basahi dunia
hura hurara meletup seiring suka cita
melukis ucap syukur kepada Yang Kuasa.

Semarang, 14 Februari 2010

Menanti - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

MENANTI
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Rindu membatu sanubarimu
tersiram merapuhkan selimut nuranimu.

Membisu dalam dekapan malam
desahmu tersapu bisikan angin menderu
tertindas deras hujan di ujung tahun.

Ku cari cacimu di relung tangisan cuaca
berharap tiada lelap dalam mimpi
namun hanya terjawab sunyi merasuk hati.

Semarang, 27 Desember 2009

Badai Asmara - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

BADAI ASMARA
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Lelah ku menanti
bidadariku melukis realita janji.
Ku tunggu di peron utara
di bawah gumpalan kelabu menutup sang surya
di belai angin dingin menusuk raga.

Gelap tengah hari
biaskan rasa badai menghampiri
menerpa bahtera asmara
kandas terantuk karang membelah ikatan cinta.

Bidadariku datang menggenggam khilaf
meratapi janji yang tiada tersaji
menyenandungkan harap terbuka pintu maaf
terucap dari hati nurani ku.

Solo, 21 Desember 2009

Sketsa Gelap - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Sketsa Gelap
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Langit berhias gumpalan hitam
melayang menyapu cahaya surya
memancarkan benderang di hamparan persada.

Dinding elips mengekang
kobarkan keteguhan tirani
memijak tindas nurani bangsa.

Berjuta insan merapat ke zona glamour
tertatih dalam karya mendulang harta
melukis dosa tiada tersadari.

Berjuta insan berteriak memekak
meronta tercabik kesucian hati
merenda dusta tiada bertepi

Telapak -telapak minor merayap
mencari celah dinding tirani
seribu langkah tinggalkan sketsa gelap.

Semarang, 30 Januari 2010

Puisi Sensitif 1 - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi Sensitif 1
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Memendam dendam dalam kebisuan
ketika hati terajam murka
saat ditampar nyanyian hina
merapuh memeras tangis jiwa
tiada sua tetes berakhir.

Mendobrak tirani menikam pikiran
menuntaskan episode berselimut gelap
terinjak caci perabukan sanubari
terkoyak diri menorehkan merah telinga
melukis hasrat kebencian tak bertepi.

Semarang, 16 Januari 2010

Pulang - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Pulang
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Berlalu melayang tinggalkan bumi Lawu
bermandikan kesedihan tiada mampu tersapu
bila senyummu melukis realis di hamparan hatiku.

Tuhan,
beri aku terang panjang siang tiada berlalu
merangkai waktu tak bertepi untuk juwitaku,
ku tak kuasa menyilangkan kehendakMu.

Bayanganmu tertatih sirna beriring waktu
memahat rindu menggebu mengisi relung jiwaku
menorehkan hasrat membingkai sua padamu.

Semarang, 2 Desember 2009

Melintas Rel Kehidupan - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Melintas Rel Kehidupan
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Hari demi hari
merayap menapak episode berarti.
Kemarahan-iri-dengki merapuh jiwa insani,
kegembiraan hingga cinta memendam luka hati.
Berjalan melintas rel kehidupan
melalui hamparan hitam putih kejadian
berakhir merapat dalam peron pergantian
memahat karya-cita-cinta-doa menerabas pintu kepalsuan.

Semarang, 29 Desember 2009

Puisi -Kopi dan Kereta Api - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi - Kopi dan Kereta Api
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Segelas kopi kental membanjiri kerongkonganku
pahit manis berpadu satu,
menyiratkan warna-warni hidupku
di buana fana yang palsu.
Aku ingin keluar dari kereta yang gelap pengap dan pahit,
dan singgah di kereta tujuan negeri impian.

Di stasiun obsesi menanti ke negeri mimpi,
ku bersua anak manusia beraut misteri
menggenggam tiket muram untukku.
Ku berlari mengusap bayang-bayang tiada arti.
Silangkan hasrat pijakkan di hamparan gersang
melempuhkan ragaku.

Kugenggam tiket di lintas illahi
mahal terbayar juang ikhtiar,
ku dekap manis di purna upaya,
menguras tenaga berbunga mulia.

Kumandang semboyan keberangkatan bergema,
mengiringi derap kedua belas gandar menggilas berbilah dua,
menghela kereta kebenaran menuju negeri impian
buana kejujuran merapuh kepalsuan.

Semarang, 21 Desember 2009

Jumat, 28 Mei 2010

Kidung Malam - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Kidung Malam
Oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Sambutlah malam sunyi sepi dalam rehat sejenak.
Jangan hias gelapnya malam ini dengan menatap kemeriahan arena
yang disambut hura hurara manusia-manusia bodoh
dan memutar balikkan otak insan
bila kau tak ingin terkontaminasi kebodohan.
Rebahlah di peraduan untuk sirnakan lelahmu dibuai denting "Etude In E Minor"
buah karya agung Chopin sembari membawamu melayang di alam mimpi
hiaslah tidur malammu dengan fragmen mimpi nan indah
Bersiaplah menyongsong mentari di ufuk timur untuk kembali berkarya.
Tepis semua kisah yang merapuh hatimu.
Tetap berpijak dalam sosok juwita jelita yang menggenggam berjuta pencerahan
untuk gapai langit2 kesuksesan berkarya.

Semarang, 28 November 2009

Balada Si Tutik - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Balada Si Tutik
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Bersua juwita dari ranah Vorstelanden
jabat tanya siapa dirinya?
Tutik...
derap langkahmu mengais warta di panas nan terik.
Tiada lelah mengukir di ragamu.
Ku terjerembab dalam khasanah hatimu
sembari ku lantunkan hasrat cintaku untukmu.
Tajam menatapku seolah menetaskan amarah padaku
sejenak termanggu hingga terbuka sinyal semboyan cinta untukku.
Nyanyian kata-kata mu yang terucap
menggenggam jutaan arti bagiku.
Sosok juwita jelita pencipta wacana memantik realita tersemat jiwamu.
Namun,
rentetan caci-caci cingcongmu tiada henti,
letupan amarah untukku yang membuatku semakin terpana padamu.
Biarkan semburat berjuta-juta kalimat marah mendesis dinamis dari kawah bibirmu.
Parasmu adalah samudera kecantikan di balik kemurkaan kecilmu padaku. Sirnakan senyum manis yang mematukku dalam racun kekecewaan.
Biarkan gelegar marahmu lebih merasuk hatiku menyisakan jejak sayangku padamu.
(dedicated to Primastuti)
Semarang, 22 November 2009

Pengecut - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Pengecut
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Desah suaramu menyusup goa telinga seluruh insan,
siar sederet kata umpat melumat hati yang kau benci.
Bercacilah dalam kain kepuasanmu
tiada hari kan terhenti nyanyian dustamu,
memanggang indera dengarku,
menggoyang wahana penatap kiriku,
menghunus di hamparan hatiku.
Engkau bak iblis yang menumpahkan hasrat
memendamku dalam liang kehancuran.
Namun samar tarian raga dan wicara mu
menghias episode demi episode hidupku.
Setan itu terus mengambil seribu langkah dan kedua matanya mengeja kemana dan apa yang kulakukan demi sebuah kebenaran.
Namun kebenaran yang kuungkap lenyap tersapu kedua tangannya.
Gentarmu memuncak ketika bersua ku di hamparan yang berdebu dan gersang.
Keberanianmu hanya bersarang jauh di belakangku.
Hai insan pengecut!!!
Sirnakan semua gentarmu padaku.
Tatap diriku dan ledakan kebencian-amarah dari kawahmu.
Sekejap lega menjelma singkirkan luka hatimu padaku.
Tinggalkan aku bila kau mendobrak deretan kata imbau untukmu.
Biarkan cahaya ketentraman berbinar di hatiku yang sepi sunyi.

Semarang, 15 November 2009

Sepenggal Mimpi Dalam Lara - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Sepenggal Mimpi Dalam Lara
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Ragaku membentang lemah dalam lara.
Terlelap dalam sunyi senyapnya studio lantai dua.
Sekejap lupakan lara yang mendera,
kala mimpi indah menjelma.
Melayang menerabas kitaran warsa,
suasana yang tak terjamah sebelumnya.
Aku merayap dalam alam penuh tanya.
Bersua Juwita yang membisikkan deretan kata:

Pijakkan telapakmu ke utara,
kan bersua batu tua
sisa Merapi yang murka,
genggam melati yang merana di hamparan lumut batu tua,
singkirkan lara di raga kala putik kumandangkan suara
putri-putri khayangan nan mempesona.

Ku genggam pesan Juwita,
hingga ku bersua batu tua dan melati yang merana.
Kudekap melati diantara dua jari
dan kusematkan di lubang telinga.
Tiada senandung putri-putri khayangan yang ku sapa,
hanya reportoar Air From Orchestral Suite No.3 In D Major
buah karya agung : Johan Sabastian Bach,
yang membawaku dalam dansa mesra
bersama putri-putri khayangan nan jelita.
Kubuka kedua mata ketika sadar merasuk jiwa,
sirnakan mimpi yang melanda.

Semarang, 3 November 2009

Kamis, 27 Mei 2010

Kenanglah Dia - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

KENANGLAH DIA
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Ku bersua Renata
dalam pesta musik berhias tanya.
Pesona parasmu mengiringku dalam kereta terpana.
Senyummu tinggalkan jejak kenangan yang membara.
Sayang,
ragamu terkemas harap harta dunia.
Tak kuasa ku menghelamu ke dalam emplasemen cinta.
Walau hatimu menghiba terbuka sinyal semboyan cinta
kepadaku sang bujang kelana.
Ku pacu tinggalkan dirimu dalam suka berbaur duka.
Parasmu berrias butir pesona sisakan bayang di hatiku,
tinggalkan kenangan pelipur lara ku,
membasuh luka hatiku akan nona yang telah mencampakku.
Maafkan aku bila sebatas mengenangmu.
Karena kau peluk berjuta harta,
menyilangkan hasratku untuk mencintaimu.

(dedicated to Nina)
Semarang, 8 Oktober 2009

Telapak & Anjing 2 - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Telapak & Anjing 2
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Deretan aksara menyanyikan rayuan tiada suara
menyulut cinta pengeja
berbusana gengsi arogansi.
Si empat menjual diri
senyumnya manis mengalahkan wanita
melukis harap ribuan mata
menyihir hati insan mendekap dirinya.
Tiada dua telinga menyapa deretan nyanyian imbau,
tiada lukisan kesadaran di media hati.
Telapak-telapak itu tetap melayang dalam canda dan tawa.
Melenggang kencang di media bubur kelabu yang memanjang menerjang kandang.
Telapak - telapak itu merias kemarahan dalam dekap merapat nan pepat pekat.
Jerit elektrik pun tiada henti
meraung-raung melepas polusi dekadensi
antara insan bertahta dan hina.
Anjing-anjing terkatup membisu
menatap telapak melayang kencang.
Meletupkan gonggong hujat
bagi telapak yang merayap
tertatih menggapai hidup di buana kepalsuan.

Semarang, 12 Desember 2009

Puisi Untuk Jelita - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

PUISI UNTUK JELITA
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Memendam duka mengais puing-puing yang tersisa.
Menutup keindahan lembaran lama,
terselip nestapa di balik langkah merayap tinggalkan griya tua tercinta.
Membuka lembaran baru berlapis tanya,
bilamana kebahagiaan mengusir lara?
Kala pijakkan telapak di tanah terjanji,
kuterpana menatap Jelita,
pribadi sederhana berhias pesona,
bersua sehari serasa seribu hari yang tak mungkin.
Berbalas kata dalam canda,
terbias cintaku kepadanya.
Perlahan sirnakan bayangan nona
yang berdiam di kaki tanah tertinggi Jawa.
Jelita pelipur lara seluruh dukaku,
menebar spirit menggapai tinggi ke puncak asa.
Jelita,
bukalah sinyal semboyan cinta untukku.
Jangan kau lepaskan rantai kereta cinta.
Kuingin menghela dirimu melintasi hamparan kedamaian
menuju depo singgasana kita berdua.

(dedicated to Galuh, beautiful girl from Kudus)

Semarang, 3 Maret 2006

Cinta & Misteri - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

CINTA & MISTERI
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Saat indera penglihatan menyapa juwita pencipta pesona,
menuntun jabat persahabatan meniti ke dalam bahtera cinta.
Namun melukis aksara tawa sembari menanam benih-benih asmara,
lebih rumit daripada menerabas lubang jarum kesetiaan.
Juwita berlalu dihimpit belenggu ketakutan,
atau terdiam di balik perisai kesombongan?
Kepergiannya meletupkan tanda tanya dan kecewa.
Bibirnya terus terkatup dalam sensualitas berias misteri.
Adakah cela di balik rentetan kalimat cinta untuknya?
Apakah nyanyian maaf perlambang khilaf mampu menyatukan puing-puing hatinya?

(dedicated to Anna)

Semarang, 8 Oktober 2008

Armegedon - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

ARMAGEDON
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

ARMAGEDON Pt 1 : STOP SAMPAI DI SINI?

Resah menyelimuti jiwaku,
gelisah mengekang hatiku,
ketika perkusi telingaku bergaung tertabuh warta akhir fana.
Di sana puluhan insan pekerja doa
menarikan dan menyanyikan kebahagiaan,
menyambut akhir jiwa berpijak di dunia.
Membawa lukisan yakin di jiwa,
lambang suci di hati ungkap harap duduk di singgasana surga.
Tiada karya semestinya kala di negeri fana,
hanya tangis dan doa tersiar mereka berharap harta
tiba dari sang pencipta,
mendobrak ikhtiar menggapainya.
Bila akhir jiwa telah menyapa,
bila akhir fana saatnya menjelma,
ku nyanyikan seuntai pasrah kepadaNya.
Akankah meniti hidup berakhir sampai di sini?

Semarang, 8 Oktober 2009

ARMAGEDON Part 2: BILA SEMUA BERAKHIR

Bila semua berakhir.
Tiada caci caci anak manusia.
Tiada gemerlap elektrik di penjuru buana.
Tiada tikus beralas karet berlarian di atas padatnya bubur kelabu.
Semua terbentang bisu dalam senyap.
Hatiku berdegup kencang saat warta prahara kan menghujam dunia.
Mengapa mereka mencium alam raya saat kudekap bahagia?
Sesal jiwaku tiada jalan pijakkan Madina,
manakala ikhtiar dalam karya
melukis mimpi merayap ke tanah yang suci,
sekejap cipta tak terduga lenyap tiada tersisa karena prahara.
Serasa hutang pada Illahi yang tak terpenuhi,
mendepakku atas kemarahanNya ke kawah neraka.

Semarang, 13 Oktober 2009

ARMAGEDON Part 3: PRAHARA MENJELMA

Gemuruh bersinergi terkoyaknya dunia telah tiba.
Ratusan juta mata seluruh benua
terpana dalam selimut tanya,
apakah fana kan berganti baqa?
Sekejap ribuan bongkah raksasa mencium alam raya,
menebar bara api melibas segala isinya,
menciptakan maha taufan mendepak terjang penghuninya.

Semarang, 15 Oktober 2009

ARMAGEDON Part 4: TERBUNUH SUNYI

Sunyi mengiringi ke benua baqa,
terkapar dalam tidur keabadian.
Semerbak lebam jasad melayang
memancar dari raga yang kaku membisu.
Tiada insan tersembunyi di balik ruang keselamatan.
Wajah fana berubah beku.
Tiada nyanyian burung saat menyapa mentari.
Tiada teriakan lapar Gagak mengais yang terbujur mati.
Semua musnah terbunuh dalam sunyi.

Semarang, 27 Oktober 2009

Opera Cinta Kucing - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Opera Cinta Kucing
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Senja menyapa malam,
seekor kucing putih besar menanti di pintu pagar.
Nyanyian meong nya yang nyaring,
mengalun mengetuk gendang telinga kucing wanita bersampul cokelat.
Kucing perawan itu menyambut dengan senandung meong,
memancarkan pesona terkemas cinta kepada kucing putih.
Berdua merayap di lantai paving untuk bercumbu.
Menikmati belaian asmara serasa menuntaskan bergelas-gelas anggur cinta yang memabukkan.
Malam demi malam melintas,
opera cinta mereka melenggang tak kenal waktu.
Hingga tragedi bertandang mengandang kucing virgin ke rumah baqa.
Kucing putih terus menyanyikan meongnya,
berharap jumpa kekasihnya yang sirna tanpa berita.
Malam demi malam melintas,
kucing putih tertatih-tatih dalam sedih dan tanya,
mencari pujaan hati yang terbujur kaku di liang baqa.

Semarang, 26 September 2009

Tragedi Pompeii - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Tragedi Pompeii
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Siang terik mentari mencium bumi Titus.
Petaka mengintai berjuta insan Pompeii
di hari ke-27 saat Virgo bersinar.
Sekejap di puncak Vesuvius menebar pekat gelap,
menyulap langit hitam membias isyarat bencana.
Bergetar kencang tanah kota metropolitan.
Jerit histeris berunision dalam kekalutan insan.
Hutan batu berguguran terkoyak goyangan bumi,
menindas insan dan satwa memendam di balik puingnya.
Vesuvius yang cantik berganti murka mencabut nyawa.
Bola api berterbangan menghiasi langit,
memanggang insan dalam seribu langkah terkalahkan.
Aroma telur busuk menusuk kantong,
memaksa mual berujung ajal.
Barisan domba berlari menuruni lereng, mengejar, dan menerjang tanpa ampun,
beriring dalam gelombang arus sungai yang menyala,
bersanding batu-batu yang merajam seluruh isi kota berbinar.
Pompeii telah mati terbunuh kemarahan Vesuvius,
sepi tinggalkan berjuta misteri.

Semarang, 26 September 2009

Puisi & Wakil Rakyat - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Wakil Rakyat
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Ragamu terbungkus kemeja kewibawaan,
berkalung dasi berhias misi kepercayaan,
terkemas jas berrias keberanian.
Duduk membisu dibawah gedung berkubah,
memutar otak menetaskan pikiran deretan kata berpihak jelata.
Bukan mendulang harta semata semarakkan tarian di atas luka.
Jangan kau ubah lirik lagu janjimu untuk seluruh insan.
Jangan kau sulap sepakat menjadi khianat berbunga laknat.
Wahai wakil rakyat yang harum bermandikan bulgari.
Bawalah nyanyian bangsa mu dan kumandangkan dalam rentetan bait pembelaanmu.
Buang nyanyian dusta di hati yang merapuh hati rakyatmu.
Tiada lagi koor budak otoriterisme menggelar konser megah di senayan.
Bawalah rakyatmu dalam sebentuk bangsa mulia,
mendobrak dinding pengekang kebebasan ungkap kata,
bias hati nurani berharap mahardika.

Semarang, 3 Oktober 2009

Minang yang Terkoyak - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Minang Yang Terkoyak
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Senja menyapa ranah minang
di medium libra yang bercahaya.
Sepekan lebih setelah berpijak kemenangan,
hamparan Padang terkoyak mendobrak.
Barisan hutan bata merapuh tersentak
di atas media yang merekah pecah.
Menyisakan puing yang mencabik nyawa dalam terpendam.
Jerit melengking menyemburatkan intro shimpony tangis
berunision dalam teriakan mengagungkan namaMu.
Wajah tanah Mak Itam merata putih berselimut debu
pasca petaka menyapu sukma seketika.
Tuhan,
mengapa Kau tabuh genderang bencana ke padang Gadang?
HambaMu telah lelah bersimbah darah tertampar prahara.
Itulah gemuruh nyanyian hati derita anak manusia di ladang bencana,
Terjaga tak kuasa pejamkan mata, terbayang mimpi nyata berrias petaka.
Mendamba penuh harap iba belaian pelipur lara,
Melecut spirit tinggalkan kenangan berkawan duka.

(dedicated to victim of earthquake in West Sumatra)

Semarang, 3 Oktober 2009

Sendiri di Tanah Terjanji - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Sendiri di Tanah Terjanji
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Tubuhmu membisu dan kusam saat berpijak di bukit berawa.
Menyendiri teranak tiri kala penggerak elektrik menyingkirkanmu.
Panas memanggang, tetes hujan basah menyisakan karat di tubuhmu.
Nyaris ragamu menjadi santapan tikus-tikus rakus ambisius.
Di kaki pusara dasamuka kau dirawat dan dirias,
menjadi pujaan ketika hidup dan meniti di atas besi berbilah.
Seabad lebih kau hela rakyayku di atas empat gandar besi berdinding kayu,
melintas cepat membelah hamparan hijau dikelilingi deretan bukit.
Tak kusangka secepat itu kau pergi tinggalkan garasi tua
tempat kau terawat dan terlahir kembali.
Aku sangsi di tanah terjanji kau bisa abadi.
Jangan biarkan jasadmu terberai setan pendulang uang.
Bila nanti kau tak berlari untuk selamanya,
rebahkan jasadmu di atas batu membentang,
agar pemujamu menatap dan mengenangmu.

(dedicated to steam locomotive C1218 in Daop VI Solo & E1060 in Divre II West Sumatra)

Semarang, 27 September 2009

Prestasi Berhias Hina - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Prestasi Berrias Hina
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Tiada kedua mata melihat,
ketika jemariku menarikan karya berjuta makna.
Tiada kedua telinga mendengar nyanyian pujian merasuk hatiku,
kala gelora prestasi kudekap dalam goresan titian karierku.
Sebelah mata dalam bingkai kacamata sinis
berbunga sangka cela untuk deretan karya.
Sembah harta membiaskan pujian bagi insan korban kepalsuan berkarya, terbenam sebagai sebab akibat sebentuk tuntutan kepalsuan dunia.
Hatiku mendobrak namun terhalang dalam dinding tak kasat mata
menekanku dalam aura ketakutan berpadu dengan kemurkaan.
Aku bagai berjalan di rel yang terkemas keraguan dan kepastian.
Akankah berpijak ke peron kebahagiaan dan kesuksesan?
Bila aku berpijak dalam bencana,
ungkap mereka berhiaskan tawa,
bahwa aku terhukum sebagai bunga berontak tuntutan mereka.
Bila aku berpijak dalam bahagia,
ungkap mereka berhiaskan sinis dan canda,
membenamkanku dalam senandung hina yang tiada bertepi.

Semarang, 23 September 2009

Puisi & Lebaran - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Lebaran
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Tarian kedua hasta menata pembungkus raga
jelang hari kemenangan berbunga fitri.
Langkah tertatih mendekap buah karya dari tanah rantau.
Bersiap melayang di dalam tikus beralas karet.
Terlukis senyum dalam wajah,
tersirat bangga menetaskan jumawa.
Terbayang hura hurara orang tua dan saudara,
terbias dalam koor kebanggaan memuji kesuksesan.
Namun keindahan mimpi melayang tersapu halangan.
Si empat terkemas lara tinggalkan jejak kecewa.
Kuasa Khaliq menghardik batinnya,
tinggalkan jumawa yang berlumur dosa,
membawa menyelami danau kesucian.
Tinggalkan si empat biar mengandang,
jauhi merapat dan jangan nodai kantong insan.
Duduklah di atas delapan gandar besi,
meluncur cepat di atas bilah memanjang,
mengantar menuju rumah silaturahmi,
menyambut hari yang fitri.

Semarang, 19 September 2009

Puisi Untuk Shinta - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi Untuk Shinta
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Dua windu telah melintas.
Menetaskan butir kenangan,
saat lajang muda bersua Shinta,
berparas pinang terbelah
sinden Cianjur penebar goyang.
Tiada harap gelora cinta kendala jauh masa berpijak dunia,
tak akan mampu terhalang istana cinta.
Dua windu telah melintas.
Terpana menatap Shinta,
hingga sepiring nasi cap cay tandas tak terduga.
Lara mengoyak raga,
terpendam di bawah bunga senyumannya.
Tiada nyanyian rintih,
hanya rentetan canda.
Pasrah terbias di hatinya.
Derita datang dan punah,
jiwa bermukim di raga,
bilamana terbang ke pulau baqa,
rahasia illahi yang bertahta.

Semarang, 16 Agustus 2009

Mimpi yang Sia-Sia - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Mimpi Yang Sia-Sia
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Mendekam seribu kata tak terucap,
memendam gelora asa di balik karya semestinya.
Mendobrak dinding minoritas kepuasan,
meninggalkan kumandang syukur atas anugerahNya.
Merajut mimpi mengeja imbau,
tak terasa terbuai aksara manis,
hingga tertatih-tatih menggapai ekstase tinggi
tertindas otoriterisme gengsi.
Apa daya asa terbang ke lain insan,
berjuta harta tuntas tak tersisa.
Sekejap harap tersulap muram,
meratapi mimpi yang berkeping-keping hanyut dalam sungai kepalsuan.
Imaji melayang di dalam tikus beralas karet,
menari sebelas jari di atas bilah komputer jinjing,
atau bercuap dengan si hitam manis berry,
semua lenyap sunyi senyap.
Realita kuasaNya di balik manusia menata rencana dan asa.
Mari mencicipi nikmatNya dan senandungkan syukur kepadaNya.

Semarang, 10 September 2009

Rabu, 26 Mei 2010

Untuk Rakyat Belasan Tahun - oleh :Nugroho Wahyu Utomo

Untuk Rakyat Belasan Tahun
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Di bawah cahaya purnama
malam kesembilan penuh ampunan,
dua anak manusia lantang melagukan kepedihan,
kemarahan, dan tangisan tanah terjanji ini.
Tersirat dalam fragmen bayangan
di gedung tua kaki bukit.
Sepi tiada mata menatap,
sunyi hanya telinga terbungkam rumpi.
Jemari asyik menari di tombol black berry,
atau menggenggam As biang kemenangan.
Wahai rakyat belasan tahun,
jangan tertawa dan duduk manis di kereta kelas apatis,
dengar dan lihat tanah terjanji ini tengah diinjak-injak kerajaan datuk,
kakek veteran sibuk membelalakan mata kemarahan,
menyatu dalam unision senandung tangis sukma ksatria di alam baqa.
Mari kita berkumpul di kereta nasionalis,
di atas bogi yang meluncur untuk mengantar melawan datuk dan pengikutnya,
menampar muka jumawa membela tanah terjanji ini.

Semarang, 1 September 2009

Puisi & Puasa - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Puasa
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Percikan lantunan doa jelang bulan penuh ampunan
seolah menamparku yang tercemar larutan dosa dunia.
Seruan Sang Khaliq menuntunku ke pintu bulan penuh berkah.
Sekejap hatiku berucap,
pantaskah aku memijakkan telapak di dalam rumah yang suci itu?
Perlahan derap langkahku merayap dalam ketakutan dan kepastian.
Mengeja untaian kata imbauNya merapat ke dermaga kekusyukan ibadah.
Memendam api dalam diam sejuta kumandang kata.
Memalingkan rayuan berbisa pengundang petaka dosa.
Bersiram peluh buasnya sengatan sang surya,
tertatih mendulang uang untuk bertahan.
Tak tahu lagi berapa liter tersisa di kantong
untuk bertahan hingga mentari di ufuk barat.
Tak terasa melintas siar firmanNya,
dan malam seribu bulan,
menuju pintu kemenangan yang fitri.

Semarang, 12 September 2009

Cinta & Misteri - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Cinta & Misteri
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Saat indera penglihatan menyapa juwita pencipta pesona,
menuntun jabat persahabatan meniti ke dalam bahtera cinta.
Namun melukis aksara tawa sembari menanam benih-benih asmara,
lebih rumit daripada menerabas lubang jarum kesetiaan.
Juwita berlalu dihimpit belenggu ketakutan,
atau terdiam di balik perisai kesombongan?
Kepergiannya meletupkan tanda tanya dan kecewa.
Bibirnya terus terkatup dalam sensualitas berias misteri.
Adakah cela di balik rentetan kalimat cinta untuknya?
Apakah nyanyian maaf perlambang khilaf mampu menyatukan puing-puing hatinya?

Semarang, 8 Oktober 2008

Hitam & Putih (Dua Sisi) - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Hitam & Putih (Dua Sisi)
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Terbuka mataku di kancah kepalsuan dunia.
Beranjak mengeja episode waktu demi waktu.
Tersentak mendobrak dalam fragmen hitam,
menata tanya dalam melodi kritis,
hingga batu-batu itu berterbangan merajam hatiku.
Tabu menyanyikan shimpony protes nan kritis atas kehendakNya.
Samar sound of hujatan menerabas lubang telingaku,
kumandang insan bahwa aku ini gelap pekat.
Aku adalah gumpalan tanah bernyawa yang terkontaminasi racun iblis.
Aku adalah cacing yang mampu merapuh hati manusia,
tetapi mampu menyiram bunga hati yang telah layu,
mekar berbinar memancar menendang belenggu jiwa.
Seribu bola mata tiada menatap,
sejuta telinga amit mendengar.
Cerita citra hitam menutup lembaran putih,
mendepakku ke jurang cela.

Semarang, 29 Agustus 2009

Puisi & pengkhianatan - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Pengkhianatan
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Kenikmatan persahabatan lebih mahal dari gedung Rockefeler.
Manisnya aneka wajah hingga merasuk ke dalam relung hatinya,
lebih langka daripada barang antik.
Membingkai khianat lebih mudah dari sekedar membalikkan telapak.
Merumuskan kesepakatan lebih rumit dari deferensial integral.
Mulut manis menyengat dalam senandung persahabatan,
menimba sumur yang berlebih,
merekam jejak citra hitam,
siar gerilya menyepak dalam gawang fitnah.
Mulut manis berbisa terus menyanyikan kebohongan kepada ratusan kerbau,
meniup terompet petaka di jiwa infanteri.
Ternoda nama terjerembab jurang cercaan.
Nista menetap di singgasana hati.
Semua pergi tinggalkan jejak caci.
Merapat ke pelabuhan gemerlap pesona,
bertandang ke pintu kerongkongan si manis,
bersiap dicerna dalam perut kemunafikan.

Semarang, 22 Agustus 2009

Puisi & Sepi - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Sepi
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Sepi membingkai di medium singa,
terkubur di bawah gempita kemenangan,
terpendam ditinggalkan pesta kebebasan.
Sepi karena ada yang hilang,
mengembara bak merpati melayang
menghilang tersapu mega di balik sana.
Abaikan untuk menepis lara diri,
ungkap kumandang insan.
Mungkin,
merpati membisu memendam diri
di tengah kancah kegembiraan,
merpati terbang ke negeri terjanji,
atau menyepi berlari dari tamparan angin?
Sekejap sirna mencipta tanya.
Akankah kembali ke singgasana hati?

Semarang, 13 Agustus 2009

Telapak & Anjing 1 - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Telapak & Anjing 1

Siang kering kerontang,
mentari memuntahkan panas,
desir angin menebar debu,
melukis dekil,
memanggang hitam,
menebar semerbak asam.
Kota glamour itu telah tertimbun,
oleh pekat di atas tanah yang padat.
Semua melayang tak berpijak di bumi,
mendekat rapat tak bergerak,
menjerit elektrik,
memekak buasnya panas,
siang itu.
Sudah berapa doble lubang disusupi?
Sudah berapa kantong dicemari?
Lihatlah mereka yang menyetrika dengan telapak!
Ketika telapak merayap di atas tanah,
mengundang anjing menyalak dengan mata sinis.
Kini telapak itu melayang,
dan anjing itu mendekam dalam bisu.
Wajahnya terseyum haru,
berbuah bangga,
untuk yang terbungkam gengsi.
Wahai insan modern,
dekaplah si empat,
agar kau tak dihujat.
Bubur kelabu telah menerjang kandang.
Kakek besi pun terbenam mati paksa.
Bila padat merapat,
siramlah bubur kelabu,
untuk si empat,
yang manja dan menyebalkan.

Semarang, 11 Agustus 2009

Puisi & Kereta Kebahagiaan - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Kereta Kebahagiaan
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Gelisah dan senang menyatu dalam adonan jiwaku,
menanti datangnya kereta kebahagiaan,
membawa hura hurara esok hari.
Bila esok terjadi dalam seminggu,
maka letupan emosi akan menghajar gendang telinga yang mendengarnya
berupa tangis, marah, dan curahan hati.
Tiada henti,
hingga anjing-anjing yang mendengar tertunduk lesu,
memahami erupsi hatiku,
dan tuntaskan otoriterisme mereka.
Inilah aku,
pijakkan telapak di bumi,
mendobrak pintu tirani,
melawan arus sungai kepalsuan,
dan menerjang labirin pengekang mimpi.
Aku ingin,
cahaya independenisme,
menerangi ikhtiar diri,
menggapai mimpi.
Semarang, 10 Agustus 2009 @ h-1 usia ke-37

Puisi & Puisi - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Puisi
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Gundah gulana mendekam lama,
menebar resah di hati,
kala kias kata telah punah,
berharap jumpa,
saat berpuisi.
Ku coba menata kata berjuta makna,
mendobrak paksa mengeja pustaka.
Aku tak patut menyandang pujangga,
aku hanyalah penari pena tengah meniti ilmu merangkai aksara,
yang kias dan tidak semudah ungkap dari hati,
hingga tercipta kereta kata.
Kubiarkan anjing menyalak mendamprat,
kuabaikan singa mengaum menghujat,
kuacuhkan monyet tertawa menarikan pelecehan.
Aku ingin insan mengeja,
karya ciptaku ini,
berharap ucap bermakna imbau,
untuk goresanku.

Semarang, 9 Agustus 2009

Puisi & Keadilan - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Keadilan
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Aku bukan pengeja pustaka,
yang tak mampu berkata-kata penuh makna,
hingga mempesona jutaan wanita.
Aku adalah pendobrak tirani paksa,
yang menolak dalam tuntutan benua kelaziman,
karena muak menatap palsu skenario dunia.
Wajar bila dia jauh dari ku.
Biarkan dia pergi,
namun bayangan itu terus menghantui,
dan tetap bertahan di singgasana hati.
Tiada guna bertahan,
saat dahan silaturahmi patah diterpa badai ketidak adilan.
Menatap dia serasa menggampar mukaku,
hingga terjerembab dalam kubangan nista,
menetaskan kebencian memendam dendam.
Aku tak tahu bilamana semua kan berakhir.

Semarang, 8 Oktober 2008

Cinta & Dusta - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Cinta & Dusta
Oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Cinta dengan mudahnya berkata,
dalam senyum mempesona,
dengan kalimat manis menggoda,
menjanjikan tanpa dusta.
Ternyata semua mimpi hampa,
cinta telah menabur benih dusta,
tumbuh kembang berbuah cela.
Jangan kau pandangi dia bila tak ingin menyiram air mata,
jangan kau eja kalimat nya bila tak ingin sakit hati,
jangan kau tatap foto nya bila tak ingin marah,
jangan kau dengar janjinya bila tak ingin menamparnya.
Cinta itu harus pergi,
jangan kembali menanam dusta.
Pergi dan pergilah cinta,
ke tanah terjanji,
tempat mengobral mimpi,
tiada arti menodai diri,
menindas strata,
ke dasar samudra dosa.
Semarang, 2 Agustus 2009 @ 10.10 AM
(dedicated to cewek pendusta)

Puisi & Tangis - oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Puisi & Tangis
oleh : Nugroho Wahyu Utomo

Keceriaan wajahku,
sekejap berganti muram.
Malam itu,
tetes demi tetes air mata,
menyemburat melalui ceruk mata,
diiringi irama sengguk,
dan senandung tangis,
lalu meletus memecah keheningan,
serta kesunyian malam.
Aku menyanyi dan berpuisi dalam tangis,
yang mengejutkan dua anak manusia,
tengah berkarya,
dalam raut muka hampa,
seraya mereka bertanya,
kenapa, dan mengapa,
tentang erupsi tangis,
dari diriku ini.
Aku enggan berkata-kata,
dalam sebab dan akibat,
kupendam dalam bisu,
ke liang lahat hatiku,
tentang sebab dan akibat,
letupan tangis malam itu.
Tangis itu,
perlahan tetapi pasti,
berhenti.
Aku ingat mimpi,
yang kurajut dalam ikhtiar diri.
Ku ingin tegap berdiri,
walau rapuh mengoyak hati,
mengejar mimpi dan prestasi,
di episode hidup ini, esok, lusa, dan nanti.
Biarkan bayangan itu pergi,
menyisakan luka hati,
bila mencengkram dalam diriku ini.

Semarang, 20 Agustus 2008